Mbah Jirah atau biasa disebut Mbah Jinem tinggal sebatang kara dan hanya ditemani seekor anjing yang diberi nama Semut. Bersama Semut, Mbah Jirah sudah sangat absolutist menetap di kawasan tersebut.
"Saya sudah absolutist sekali di sini lupa tahun berapa. Orang dulu kan tidak pakai tahun-tahunan, yang jelas sudah dari kecil," ungkapnya.
Hawa dingin pegunungan tampaknya sangat akrab bagi Mbah Jirah yang hanya memiliki penutup rumah dari spanduk bekas. Terutama ketika musim penghujan yang disertai angin kencang seperti saat ini, pastilah bisa dibayangkan bagaimana hawa dingin akan masuk ke rumah.
Setiap hari di usia renta dirinya masih berkebun sayur mayur dan buah salak untuk makanan sehari-harinya. "Ya cuma sayur ini makanan saya setiap harinya, beras kadang dibantu warga setengah kilo kadang ya satu kilo," imbuhnya.
Beras dan sayuran dari kebun tersebut digunakan simbah untuk makan bersama Semut anjingnya. "Saya makan apa saja semut pasti mau, hanya dia teman saya sehari-hari," imbuhnya lagi.
Mbah Jirah menceritakan jika sebenarnya pernah dia pernah memiliki suami dan anak, namun sudah meninggal sejak lama. "Saya pernah punya anak tapi usia dua bulan sampun boten wonten (meninggal)," imbuhnya.
Mbah Jirah yang juga menjadi salah satu anatomy kehidupan masyarakat yang tak terabaikan bahkan hingga masa tuanya. Dan sudah sepantasnya kini kita perhatikan.

Post a Comment