Koordinator Forum Advokat Pengawal Konstitusi (FAKSI) Petrus Selestinus mengatakan, Presiden Jokowi tidak sadar kalau pemerintahannya sudah melenceng jauh dari janji-janji yang pernah diumbarnya saat kampanye.
"Sampai saat ini, tidak ada yang bunyi dan tidak kelihatan. Presiden Jokowi enggak nyadar itu. Enggak nyadar bahwa tidak terjadi apa-apa yang merupakan wujud janji-janjinya kepada masyarakat," ujar Petrus kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, Jokowi tidak komitmen terhadap janjinya yang termuat dalam Nawacita. Hal itu terlihat dari sejumlah kebijakan yang kontraproduktif yang dilakukan oleh Sang Presiden beserta jajaran kabinetnya.
"Coba katakan, gagasan tol laut yang dijanjikannya mana? Gagasan akan membangun Indonesia dari pinggiran juga tidak ada. Janji kehadiran negara dan pemerintah dalam kehidupan masyarakat yang aman, yang demokratis yang adil, mana? Malah begal berkeliaran di mana-mana, korupsi sudah merebak dan tidak terkontrol sampai ke daerah-daerah. Ya tidak bunyi janji-janji itu," ungkapnya.
Petrus yang juga Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) itu mengatakan kebijakan-kebijakan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi sekarang ini pun tidak bisa diandalkan. "Bagaimana mungkin justru jadi urusan remisi kepada para koruptor yang hendak diberikan," katanya.
Selain itu, Jokowi dianggap sudah tidak mampu mengontrol jalannya pemerintahan. Sebab, selain tidak ada janji yang mulai diwujudkan, masing-masing langkah teknis yang dijalankan oleh setiap menterinya pun tidak diawasi dan tidak berjalan sesuai visi-misi.
Seperti diketahui, ada sembilan janji Jokowi dalam Nawacita di antaranya; negara hadir untuk melindungi seluruh warganya, membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, membangun Indonesia yang kuat, melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum dan lain-lain

Post a Comment