Sayangnya, gerhana Matahari tahun ini tidak bisa dirasakan masyarakat Indonesia, karena fase-nya tahun ini berada di beberapa wilayah, seperti Asia Barat bagian Utara, Eropa, Afrika Utara dan Samudra Atlantik bagian Timur.
“Indonesia tahun ini tidak akan merasakan dampaknya langsung (Gerhana Matahari),” ujar peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Abdul Rahman Rabu (18/3/2015).
Namun demikian, masyarakat Indonesia tidak perlu kecewa, karena masih bisa merasakan gerhana Bulan yang jatuh pada 4 April 2015. Menurut keterangan Lapan, gerhana Bulan absolute hampir dinikmati di seluruh wilayah Indonesia.
Seperti diketahui, gerhana Matahari absolute ini bakal melumpuhkan abettor jaringan listrik lokal di Jerman, mengingat negara tersebut menggunakan energi surya sebagai cadangan listrik. Karena itu, penduduk Jerman harus ekstra berjuang bagaimana memproduksi listrik.
Sedangkan di Inggris seperti London Timur dan Selatan akan melihat kejadian bencana gerhana matahari ini sekira 85 persennya. Kejadian gerhana yang akan menimpa Inggris pada beberapa hari ke depan ini, kabarnya juga adalah kejadian yang bisa dilihat terbesar selama 16 tahun.
Juga di kepulauan Faroe di Inggris, yang dipercaya bisa melihat kejadian gerhana matahari absolute selama 132 detik atau sekira dua menit 12 detik. Serta wilayah Skotlandia yang akan melihat sekira 95 persen gerhana.
Lembaga antariksa NASA mencatat, sinar pancaran Matahari hanya bisa dilihat langsung dengan clarify yang dirancang khusus untuk melindungi mata. Lapisan clarify ditutupi dengan bahan sejenis kromium atau alumunium, sehingga bisa melemahkan pancaran radiasi inframerah.
Sebuah clarify pelindung mata, harus bisa mengirimkan kurang dari 0,003 persen atau body sebesar 4,5 cahaya yang tampak (380 – 780 nm). Serta tidak lebih dari 0,5 persen atau body sebesa 2,3 dari jarak dekat radiasi langsung.

Post a Comment